Pada Jumat, 30 Januari 2026, publik ekonomi Indonesia dikejutkan oleh pengumuman bahwa Dirut Bei mundur dari jabatannya. Iman Rachman, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), menyatakan mengundurkan diri sebagai bentuk akuntabilitas atas gejolak pasar modal yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh Iman Rachman dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta. Ia mengatakan bahwa meskipun kondisi pasar modal menunjukkan pemulihan kecil, tanggung jawab moral menjadi alasan utama ia mengambil langkah mundur.
Dengan keputusan ini, publik dan pelaku pasar menandai satu titik balik penting di dunia finansial nasional — sebuah langkah yang jarang terjadi di Indonesia, tetapi menjadi sorotan luas karena dampaknya terhadap kepercayaan investor.
Krisis Pasar Modal dan Pengunduran Diri: Hubungan yang Tak Terpisahkan

Keputusan bahwa Dirut BEI mundur tak bisa dilepaskan dari gejolak yang melanda pasar modal Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam yang memaksa Bursa menghentikan perdagangan sementara (trading halt).
Penurunan IHSG ini dimicu oleh kekhawatiran investor global setelah MSCI — salah satu penyusun indeks saham global — menyuarakan kekhawatiran atas investability atau keterjangkauan pasar modal Indonesia. MSCI memperingatkan bahwa masalah transparansi dan struktur kepemilikan saham Indonesia bisa menyebabkan potensi penurunan peringkat pasar menjadi pasar frontier jika tidak ada perbaikan signifikan Cnn indonesia.
Situasi ini memicu aksi jual besar-besaran, nilai pasar saham Indonesia anjlok lebih dari 7-8% dalam dua hari, dan memaksa BEI untuk sementara menghentikan perdagangan guna meredam penurunan lebih dalam.
Dirut BEI Mundur sebagai Bentuk Akuntabilitas
Langkah Dirut BEI mundur dilihat banyak pihak sebagai bentuk akuntabilitas moral terhadap kondisi pasar. Iman Rachman menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil karena ia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi di pasar modal dalam beberapa hari terakhir, terutama penurunan tajam IHSG.
“Sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap yang terjadi dua hari kemarin, saya mengundurkan diri,” kata Iman Rachman dalam pernyataannya yang dikutip beberapa media nasional.
Keputusan ini secara resmi membuat kursi pimpinan tertinggi di BEI kosong, meskipun struktur organisasi memastikan ada pejabat sementara yang akan menjalankan fungsi manajerial sambil menunggu penunjukan Direktur Utama definitif.
Respon Pemerintah dan Regulator terhadap Dirut BEI Mundur
Setelah Dirut BEI mundur, sejumlah pejabat tinggi negara dan regulator langsung bereaksi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyambut keputusan itu sebagai sinyal positif bagi pasar modal dan ekonomi Indonesia, karena menunjukkan bahwa pelaku pasar dan regulator bersedia menghadapi masalah secara serius.
Purbaya menilai bahwa pengunduran diri Dirut BEI menunjukkan komitmen yang kuat terhadap tanggung jawab, dan diharapkan dapat membantu memulihkan kepercayaan investor dalam waktu dekat.
Sementara itu, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa operasional pasar modal tetap berjalan lancar meskipun Dirut BEI mundur. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK menyatakan bahwa struktur sistem — termasuk sistem kliring dan kustodian — tetap berfungsi normal dan tidak terganggu.
DPR juga memberikan tanggapan mengenai langkah pengunduran diri ini. Menurut beberapa anggota legislatif, Dirut BEI mundur adalah tindakan yang langka namun mencerminkan etika dan akuntabilitas yang layak diapresiasi di ranah pasar modal Indonesia.
Tanggapan dari Ekonom dan Pelaku Pasar

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa keputusan Dirut BEI mundur justru dapat menjadi bentuk “shock therapy” positif bagi pasar modal yang tengah mengalami volatilitas tinggi. Menurutnya, langkah ini mungkin diperlukan sebagai sinyal kuat bahwa perubahan struktural harus segera dilakukan.
Beberapa investor melihat pengunduran diri ini sebagai titik awal untuk perbaikan dalam tata kelola pasar. Langkah ini dianggap sebagai momentum untuk mempercepat reformasi, terutama terkait transparansi dan tata kelola perusahaan yang menjadi sorotan global.
Namun, tak semua pihak sepenuhnya yakin keputusan mundur akan langsung menyelesaikan persoalan mendasar pasar modal. Beberapa analis menilai bahwa tantangan struktural, termasuk isu keterbukaan data dan kepemilikan saham, membutuhkan reformasi yang lebih mendalam di luar sekadar pergantian pimpinan.
Implikasi Pasar dan Prospek Kedepan Setelah Dirut BEI Mundur
Dampak langsung setelah Dirut BEI mundur terlihat pada pergerakan IHSG yang menunjukkan sedikit rebound. Data perdagangan menunjukkan indeks menguat sekitar 1,18% setelah pengumuman pengunduran diri, meskipun pasar masih rentan terhadap sentimen negatif dari luar negeri.
Namun, penguatan kecil tersebut belum mencerminkan pemulihan penuh. Pasar modal masih menghadapi tekanan dari kekhawatiran investor global mengenai isu demutualisasi, peningkatan free float saham, hingga pemenuhan standar MSCI untuk menjaga keterlibatan Indonesia dalam indeks pasar berkembang.
Pemerintah di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan menegaskan komitmen untuk memperbaiki transparansi pasar dan struktur tata kelola yang lebih kuat, bagian dari upaya yang lebih luas agar Dirut BEI mundur tidak hanya menjadi simbol tetapi juga momentum perubahan nyata.
Catatan Akhir: Momentum Reforma Pasar
Kasus Dirut BEI mundur bukan hanya soal pengunduran diri seorang eksekutif pasar modal, tetapi juga mencerminkan tekanan besar terhadap sistem pasar modal Indonesia di tengah pergolakan global. Berbagai pihak, mulai dari regulator, pemerintah, sampai legislatif, menilai bahwa tantangan ini membuka peluang untuk reformasi yang lebih kuat dalam jangka panjang.
Meski langkah mundur Dirut BEI sempat menjadi sorotan tajam, reaksi lanjutan dari pemerintah dan regulator menunjukkan sinergi untuk memulihkan kepercayaan investor dan meningkatkan kedalaman pasar modal Indonesia.
Dengan ini, Dirut BEI mundur menjadi lebih dari sekadar berita; ia menjadi babak baru dalam dinamika pasar modal nasional yang penuh tantangan dan peluang di tengah era globalisasi keuangan.
Baca fakta seputar : News
Baca juga artikel menarik tentang : Gempa Simeulue Aceh: Mengguncang Pulau, Menggetarkan Hati Warga

